1.KONSEP PERSAUDARAAN DALAM ISLAM
Dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara Ilsam mengajarkan tiga konsep iaitu:
Ukhwah Islamiyah (saudara sesama orang
muslim)
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ "Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Maka damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat".
Dari keterangan ayat di atas, dapat dipahami bahwa setiap orang yang beriman kepada Allah adalah saudara. maka dari itu wahai umat Islam seluruh dunia, janganlah saling memusuhi antara umat Islam yang satu dengan yang lain, kelompok yang satu dengan yang lain, aliran yang satu dengan yang lain. kerana ayat di atas mengatakan "setiap orang yang beriman adalah saudara" tak memandang dari kelompok Islam apa? aliran apa?
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ "Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Maka damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat".
Dari keterangan ayat di atas, dapat dipahami bahwa setiap orang yang beriman kepada Allah adalah saudara. maka dari itu wahai umat Islam seluruh dunia, janganlah saling memusuhi antara umat Islam yang satu dengan yang lain, kelompok yang satu dengan yang lain, aliran yang satu dengan yang lain. kerana ayat di atas mengatakan "setiap orang yang beriman adalah saudara" tak memandang dari kelompok Islam apa? aliran apa?
Ukhwah Wathoniyah (saudara sesama tanah
air)
Sebagai umat beragama, berbangsa dan bernegara tentu kita tidak lepas berhubungan dengan orang yang bermacam-macam keyakinannya. lebih-lebih di Indonesia negara yang plural yang didalamnya terdiri dari bermacam-macam suku dan agama. Maka dari itu, hidup antar umat beragama harus kita jalin dengan sebaik-baiknya. Dalam Al-Qur'an Allah menjelaskan:
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
"“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah : 8)"
Sebagai umat beragama, berbangsa dan bernegara tentu kita tidak lepas berhubungan dengan orang yang bermacam-macam keyakinannya. lebih-lebih di Indonesia negara yang plural yang didalamnya terdiri dari bermacam-macam suku dan agama. Maka dari itu, hidup antar umat beragama harus kita jalin dengan sebaik-baiknya. Dalam Al-Qur'an Allah menjelaskan:
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
"“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah : 8)"
إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَن تَوَلَّوْهُمْ وَمَن يَتَوَلَّهُمْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu
menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan
mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. dan
barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang
yang zalim.” (QS. Al Mumtahanah : 9)"
Ibnu Abbas menafsirkan QS al-Mumtahanah 60:8-9 dengan mengatakan bahwa “Allaah tidak melarang untuk berteman dan menolong mereka (orang-orang makkah) yang berbuat adil dan menepati janji kepada Nabi dan sahabatnya mereka yaitu Bani Khuza’ah, kaum Hilal ibn Uwaimir, khuzainah, bani madlaj. Mereka telah berbuat baik kepada Rasul sebelum adanya perjanjian Hudaibiyah yang tidak berusaha membunuhnya, tidak mengeluarkannya dari makah. Akan tetapi Allah hanya melarang untuk berteman dan menolong mereka (ahli makah) yang secara terang-terangan mengusir Nabi dari Makah.[9]
Jumhur (mayoritas) ulama’ tafsir sepakat bahwa berteman dengan orang non muslim yang berbuat baik, menolong, berbuat adil kepada umat Islam itu diperbolehkan bahkan dianjurkan untuk menjalin hubungan dengan mereka dalam tataran sosial, akan tetapi tidak membolehkan untuk berteman dengan mereka yang secara terang-terangan memusuhi, memerangi umat Islam, atau yang mengusir paksa penduduk dari suatu negeri.
Ibnu Abbas menafsirkan QS al-Mumtahanah 60:8-9 dengan mengatakan bahwa “Allaah tidak melarang untuk berteman dan menolong mereka (orang-orang makkah) yang berbuat adil dan menepati janji kepada Nabi dan sahabatnya mereka yaitu Bani Khuza’ah, kaum Hilal ibn Uwaimir, khuzainah, bani madlaj. Mereka telah berbuat baik kepada Rasul sebelum adanya perjanjian Hudaibiyah yang tidak berusaha membunuhnya, tidak mengeluarkannya dari makah. Akan tetapi Allah hanya melarang untuk berteman dan menolong mereka (ahli makah) yang secara terang-terangan mengusir Nabi dari Makah.[9]
Jumhur (mayoritas) ulama’ tafsir sepakat bahwa berteman dengan orang non muslim yang berbuat baik, menolong, berbuat adil kepada umat Islam itu diperbolehkan bahkan dianjurkan untuk menjalin hubungan dengan mereka dalam tataran sosial, akan tetapi tidak membolehkan untuk berteman dengan mereka yang secara terang-terangan memusuhi, memerangi umat Islam, atau yang mengusir paksa penduduk dari suatu negeri.
Ukhwah Basyariyah (saudara sesama manusia)
Allah Berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
"“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)"
Dari keterangan ayat di atas dapat diketahui bahwa Allah mencipta manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa adalah supaya saling mengenal antara suku dengan suku yang lain dalam negri dan satu bangsa dengan bangsa yang lain di dunia. Tidak saling bermusuhan antara satu bangsa dengan bangsa yang lain dan satu negara dengan negara yang lain seperti yang terjadi pada saat ini. Karena menurut Allah SWT kemuliaan seseorang tidak dilihat dari segi bangsa/negara yang maju, yang berkembang, yang terbelakang dan tidak dari sisi kekayaan, kemiskinan dan jabatan. Namun kemuliaan seseorang dilihat dari segi ketakwaannya kepada Allah SWT.
Dalam tafsir Ruhul Ma'ani dijelaskan bahwa ayat ini berisi larangan untuk saling berbangga dengan keturunan. Al Alusi rahimahulah berkata, “Sesungguhnya yang paling mulia dan paling tinggi derajatnya di antara kalian di sisi Allah di dunia maupun di akhirat adalah yang paling bertakwa. Jika kalian ingin saling berbangga, saling berbanggalah dengan takwa kalian.
Allah Berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
"“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)"
Dari keterangan ayat di atas dapat diketahui bahwa Allah mencipta manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa adalah supaya saling mengenal antara suku dengan suku yang lain dalam negri dan satu bangsa dengan bangsa yang lain di dunia. Tidak saling bermusuhan antara satu bangsa dengan bangsa yang lain dan satu negara dengan negara yang lain seperti yang terjadi pada saat ini. Karena menurut Allah SWT kemuliaan seseorang tidak dilihat dari segi bangsa/negara yang maju, yang berkembang, yang terbelakang dan tidak dari sisi kekayaan, kemiskinan dan jabatan. Namun kemuliaan seseorang dilihat dari segi ketakwaannya kepada Allah SWT.
Dalam tafsir Ruhul Ma'ani dijelaskan bahwa ayat ini berisi larangan untuk saling berbangga dengan keturunan. Al Alusi rahimahulah berkata, “Sesungguhnya yang paling mulia dan paling tinggi derajatnya di antara kalian di sisi Allah di dunia maupun di akhirat adalah yang paling bertakwa. Jika kalian ingin saling berbangga, saling berbanggalah dengan takwa kalian.
2.KONSEP
JIRAN
DEFINISI
Dari segi bahasa atau etimologi, jiran
berasal daripada bahasa Arab yang membawa pengertian orang yang tinggal
bersebelahan atau tetangga.
Dari segi istilah jiran adalah orang-orang yang tinggal bersebelahan dengan rumah, bersebelahan kampung, daerah malahan lebih besar daripada itu iaitu jiran yang bersebelahan dengan negara. Jiran juga bererti ahli-ahli 40 buah rumah setiap penjuru yang mengelilingi rumah individu. Hal ini sebagaimana hadith riwayat Abu Daud, telah bersabda Rasulullah s.a.w iaitu :
Maksudnya : “Empat puluh buah rumah tetap sebagai jiran tetangga”.
Berdasarkan kepada hadith Rasulullah s.a.w menunjukkan bahawa walaupun jarak daripada rumah seseorang diselangi 40 buah rumah, ia juga dikira sebagai jiran tetangga. Menurut Ali Ibn Talhah daripada Ibnu Abbas, jiran membawa pengertian hubungan kekeluargaan atau pertalian darah. Jiran juga boleh dikatakan sebagai apabila penempatan itu dihuni oleh manusia yang lain yang juga tinggal berhampiran dengan rumah yang dihuni oleh kita.
PEMBAHAGIAN JIRAN
Dari segi istilah jiran adalah orang-orang yang tinggal bersebelahan dengan rumah, bersebelahan kampung, daerah malahan lebih besar daripada itu iaitu jiran yang bersebelahan dengan negara. Jiran juga bererti ahli-ahli 40 buah rumah setiap penjuru yang mengelilingi rumah individu. Hal ini sebagaimana hadith riwayat Abu Daud, telah bersabda Rasulullah s.a.w iaitu :
Maksudnya : “Empat puluh buah rumah tetap sebagai jiran tetangga”.
Berdasarkan kepada hadith Rasulullah s.a.w menunjukkan bahawa walaupun jarak daripada rumah seseorang diselangi 40 buah rumah, ia juga dikira sebagai jiran tetangga. Menurut Ali Ibn Talhah daripada Ibnu Abbas, jiran membawa pengertian hubungan kekeluargaan atau pertalian darah. Jiran juga boleh dikatakan sebagai apabila penempatan itu dihuni oleh manusia yang lain yang juga tinggal berhampiran dengan rumah yang dihuni oleh kita.
PEMBAHAGIAN JIRAN
Islam membahagikan jiran kepada beberapa
bahagian iaitu jiran beragama Islam yang mempunyai pertalian darah, jiran
beragama Islam yang tidak mempunyai pertalian darah dan jiran bukan Islam.
Dalam erti kata lain jiran jauh dan dekat. Hal ini sebagaimana firman Allah
s.w.t dalam surah an-Nisaa’ ayat 36 iaitu :
Maksud-Nya : Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.
Maksud-Nya : Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.
HAK JIRAN YANG PERLU DIPELIHARA
Hak jiran perlu bagi setiap individu untuk pelihara kerana hal ini adalah selari dengan tuntutan agama. Tidak menyakiti jiran dan seringkali memelihara keamanan dengan jiran. Hal ini sebagaimana dalam sabda Rasulullah s.a.w iaitu :
Maksudnya : “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat maka janganlah dia menyakiti jirannya.”
Menghormati jiran dan pengamalan mereka selagimana tidak membawa mudharat. Sekalipun jiran tersebut bukanlah beragama Islam maka menghormati dan tidak menganggu kehidupan dan pengamalan mereka misalnya ibadah mereka dalam agama mereka seperti yang dilakukan oleh orang-orang Cina dengan meletakkan tokong di luar rumah maka hendaklah dihormati selagimana tidak membawa bahaya dan mudharat.
Umat Islam yang bertimbang rasa dan menyedari serta memahami hukum-hukum agama, adalah merupakan manusia yang paling baik hubungannya terhadap jiran-jirannya. Mereka akan sentiasa mencurahkan segala bakti demi kebaikan jiran mereka yang merupakan manusia yang paling mereka kasihi. Islam banyak menyeru umatnya agar sentiasa menjaga dan memelihara hubungan dengan jiran. Menyedari betapa tingginya kedudukan jiran di dalam Islam dan peranannya dalam kehidupan kemanusiaan.
Antara hak jiran yang lain yang perlu dipelihara adalah sentiasa memberi layanan baik dan kasih sayang serta akhlak yang baik dalam muamalah dengan mereka. Islam mementingkan hubungan mesra dan layanan baik kepada jiran dan ini terlihat daripada banyak panduan daripada hadith baginda antaranya ialah daripada riwayat Abu Dzar yang menyebut telah bersabda Rasulullah s.a.w iaitu :
Maksudnya : Wahai Abu Dzar sekiranya engkau memasak maraq (sejenis makanan berkuah seperti sup) maka banyakkanlah kuahnya dan berikan kepada jiran engkau.
Berdasarkan dalil-dalil daripada al-Qur’an dan hadith, jelas menunjukkan bahawa Islam seringkali menganjurkan dan menyeru umatnya supaya sentiasa menjaga hubungan dengan jiran tetangga dan memelihara hak-hak jiran disamping menghormati jiran-jiran bukan Islam selagimana tidak merosakkan akidah dan akhlak.
3. BATAS - BATAS PERGAULAN
Batas pergaulan lelaki dan perempuan
Alam remaja adalah alam yang sangat mencabar
sehingga disebut nabi dalam satu senarai orang kenamaan akhirat adalah remaja
yang terselamat dan menyelamatkan diri daripada zina.
Maksud hadis: “Lelaki yang apabila diajak
perempuan cantik berzina lalu berkata, ‘sesungguhnya aku takut kepada Allah.’”
Sebagai satu agama yang amat hebat, Islam
menampilkan cara pengawalan yang sangat berkesan dalam mengatasi penyakit
seksual iaitu sebagaimana dalam firman Allah yang kita baca di atas, perkataan
‘jangan kamu hampiri zina.’
Kalau hampiri sudah dilarang dan ditegah,
apatah lagi melakukannya. Menghampiri bermakna apa saja perbuatan yang menjadi
penyebab, pendorong, keinginan dan sebagainya, adalah haram.
Kalau ada pendorong mudah datang keinginan
diulit bisikan syaitan sama merelakan pula, terjadilah perbuatan terkutuk yang
saban hari kita lihat dan dengar iaitu remaja melahirkan anak luar nikah.
Semuanya bermula dengan pergaulan bebas
tanpa batas, berkawan tak salah yang salahnya bila melampaui batas. Kali ini
penulis tampilkan batas-batas dalam pergaulan supaya menjadi bimbingan kepada
khalayak remaja sekalian, iaitu:
v Pandangan
v Pertemuan
v Percakapan
v Berjabat tangan
v Bersentuhan badan
Pandangan yang dimaksudkan di sini adalah
pandangan yang biasa bukan bertujuan untuk menimbulkan hawa nafsu sama ada dari
pihak lelaki atau perempuan.
Bagi kaum lelaki, Allah s.w.t memberi
peringatan di dalam firman-Nya dalam Surah An-Nur ayat 30 yang bermaksud:
“Katakanlah olehmu (wahai Muhammad) kepada orang-orang lelaki yang beriman,
hendaklah mereka memejamkan setengah dari pandangan mereka…”
Bagi kaum perempuan juga Allah s.w.t
memberi peringatan-Nya sebagaimana maksud Surah An-Nur ayat 31 “Katakanlah
olehmu (wahai Muhammad) kepada orang-orang perempuan yang beriman hendaklah
mereka memejamkan (tidak tengok) setengah dari pandangan mereka…” dari
kedua-dua ayat itu kita dapat menafsirkan bahawa kita boleh memandang seseorang
yang berlainan jantina sekadar yang perlu sahaja.
Pandangannya pula tidak keterlaluan atau
memandang melampaui batas sehingga menerbitkan hawa nafsu sesama sendiri. Hanya
dengan pandangan saja kita percaya hawa nafsu akan menguasai dan syaitan mudah
menggoda akhirnya mendorong mereka ke arah kancah maksiat.
Maksud pertemuan di antara lelaki dan
perempuan yang bukan mahramnya di tempat sunyi.
Dalam konteks hari ini lebih di kenali
dengan istilah ‘khalwat’ mengikut kebiasaannya apabila dua orang yang bukan
mahramnya bertemu di tempat sunyi, mereka akan mudah terdorong untuk melakukan
maksiat.
Dalam hal ini Rasulullah s.a.w bersabda
yang bermaksud: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat maka
janganlah ia melakukan pertemuan dengan seorang perempuan tanpa disertai
mahramnya kerana sesungguhnya yang ketiga itu tentulah syaitan.” (Riwayat
Bukhari, Muslim dan lain-lain)
Dari hadis di atas dapat kita membuat
kesimpulan bahawa Allah melarang pertemuan di antara lelaki dan perempuan yang
bukan mahramnya di tempat-tempat sunyi dan jauh dari pandangan orang ramai.
Percakapan atau perbualan yang dimaksudkan
di sini ialah apabila dua orang individu yang bukan mahramnya bertemu dan
bercakap-cakap dengan tujuan tertentu yang boleh mendatangkan syak wasangka.
Dalam soal ini bukan bermakna antara lelaki
dan perempuan tidak untuk bergaul dan bercakap-cakap, Islam tidak melarangnya,
tetapi percakapan yang dibenarkan ialah mempunyai tujuan yang tertentu atau
urusan yang penting sahaja.
Larangan itu dibuat semata-mata untuk
menghindari pandangan serong atau fitnah orang terutama sekali kaum perempuan.
Berjabat tangan bermaksud menghulurkan dan
menyambut tangan orang lain tanda hubungan silaturahim antara mereka, perlakuan
itu meliputi lelaki dengan lelaki dan perempuan dengan perempuan atau
sebaliknya.
Menurut Islam hukum berjabat tangan antara
lelaki dan perempuan yang bukan mahramnya adalah haram. Siti Aisyah r.a ada
berkata: “…demi Allah, tidak pernah Rasulullah s.a.w menyentuh tangan seorang
perempuan lain yang bukan mahramnya, hanya baginda membai’ah mereka dengan
percakapan.” (Riwayat Imam Ahmad)
Bersentuhan badan bermakna apabila berlaku
pertemuan mana-mana anggota tubuh badan antara lelaki dan perempuan yang bukan
mahramnya.
Sentuhan di sini lebih bermaksud sentuhan
dengan sengaja, lebih-lebih lagi hingga menerbitkan keinginan nafsu. Rasulullah
s.a.w pernah bersabda yang maksudnya: “Sesungguhnya jika kepala seseorang dari
kamu ditikam dengan jarum besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh
seorang perempuan yang tidak halal baginya.”
Dari hadis di atas dapatlah kita
mentakrifkan bahawa persentuhan badan antara lelaki dan perempuan bukan mahram
adalah dilarang keras Allah s.w.t.
4.INTEGRASI BUDAYA DALAM PERAYAAN
Malaysia berasal dari kerajaan-kerajaan
Melayu yang wujud di kawasan yang, dari abad ke-18, menjadi tertakluk kepada
Empayar British. Wilayah-wilayah British yang pertama telah dikenali sebagai
Negeri-negeri Selat, yang penubuhan diikuti oleh kerajaan-kerajaan Melayu
menjadi negeri naungan British. Wilayah-wilayah di Semenanjung Malaysia telah
mula bersatu sebagai Malayan Union pada tahun 1946. Malaya telah disusun semula
sebagai Persekutuan Tanah Melayu pada tahun 1948, dan mencapai kemerdekaan pada
31 Ogos 1957. Malaya bersatu dengan Borneo Utara, Sarawak, dan Singapura pada
16 September 1963. Kurang daripada dua tahun kemudian pada tahun 1965,
Singapura dikeluarkan dari Persekutuan.Oleh itu, Malaysia kini terdapat pelbagai
agama dan budaya yang tersendiri.Seperti Agama Islam , Agama Buddha , Agama
Hindu , Agama Kristian.
v Agama Islam
Agama Islam dianuti oleh orang-orang Melayu
dan Majoriti Bumiputera.Selain itu, agama Islam mengamalkan kepercayaan kepada
Allah dan Nabi Muhammad sebagai Rasul . Agama turut merayakan Hari Raya Puasa,
Hari Raya Kurban dan juga Hari Keputraan Nabi Muhammad.Tambahan pula , agama
Islam berpuasa di bulan Ramadan dan orang Islam tidak memakan khinzir dan
anjing.
v Agama Buddha
Agama Buddha dianuti oleh majoriti kaum
Cina.Selain itu, agama ini mengamalkan ajaran Sidharta Gautama Buddha yang
bermula di India. Agama ini merayakan Hari Tahun Baharu Cina, Hari Wesak dan
Pesta Kuih Bulan. Masyarakat buddha mempercayai kehidupan semula selepas
kematian. Selain itu mempercayai nasib dan tuah yang disebut sebagai 'ong' dan
juga 'feng shui'.
v Agama Hindu
Agama Hindu dianuti oleh majoriti kaum
India. Agama ini mengamalkan kepercayaan kepada dewa-dewi. Masyarakat
hindu merayakan Hari Deepavali, Hari Thaipusam dan Pesta Ponggal. Selain
itu , masyarakat hindu mempercayai balasan baik dan buruk selepas kematian.
Selepas itu , mereka turut mempercayai Sungai Ganges di India sebagai tempat
paling suci untuk membersihkan dosa.
v Agama Kristian
Kebanyakkan masyarakat agama Kristian
dianuti oleh orang-orang Cina, India dan Bumiputera Bukan Islam yang lain.
Mereka mengamalkan kepercayaan kepada Nabi Isa seabgai Anak Tuhan yang digelar
Jesus Kristus. Selain itu , masyarakat ini merayakan Hari Krismas, Hari Esther
dan Tahun Baru. Mereka turut membaptiskan anak yang baru lahir. Masyarakat
kristian beramal atau bersembahyang di gereja.
Dengan ini menunujukkan bahawa ,
Malaysia juga banyak perayaan yang ada di negara Malaysia seperti
Hari Raya Aidilfitri, Tahun Baru Cina, Deepavali, Krismas, Gawai dan pelbagai
lagi.Semua sambutan menandakan semeraknya nilai kemaufakatan,perpaduan dan
keharmonian.
KESIMPULAN
Perang di alam maya sewaktu perayaan
sewajarnya dijadikan pengajaran kepada yang sudah lama berkecimpung dalam
politik. Emosi warga adalah ke atas mood perayaan dan ia boleh mengganggu
kepercayaan ke atas sesetengah dari mereka yang cuba mengambil kesempatan untuk
meneruskan tradisi kebencian sesama ummah dan dalam kalangan masyarakat secara
umum.
Perayaan adalah salah satu penampilan
simbolik bagaimana kita boleh mengetepikan perbezaan sesama manusia untuk
dijadikan landasan perpaduan. Kewajaran menjadikan perayaan sebagai alat
integrasi boleh diperkukuhkan secara berterusan untuk memobilisasi sokongan
agar perpaduan sebagai rakyat Malaysia yang bangga dengan amalan ini tidak
menjadi propaganda politik oleh pemimpin yang tidak tahu hormati nilai-nilai
perkongsian bersama.
No comments:
Post a Comment